Minggu, 19 Januari 2014

SIRAH NABAWIYAH



SIRAH NABAWIYAH
Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi
Diterjemahkan oleh Muhammad Halabi Hamdi, S.Ag.,
Istiqomah, S.Ag., dan Adi Fadli, M.Ag.

BAGIAN 2
DARI KELAHIRAN YANG MULIA HINGGA KEBANGKITAN AGUNG

Sejak lahir, Muhammad telah menunjukkan keistimewaan yang luar biasa. Kepedihan sebagai anak yatim telah menempa pribadi Muhammad dan mempersiapkannya untuk menjadi manusia agung dan pionir perubahan di dunia ini. Selama lima tahun, Muhammad hidup terpisah dari sang ibu, Aminah binti Wahb dan tinggal di tengah keluarga Halimah as-Saadiyah. Setelah berumur lima tahun, Halimah dengan berat hati melepas Muhammad dan mengembalikannya kepada sang ibu.

A.    Kelahiran dan Nasabnya yang Mulia
Abdulllah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahb
Rasulullah Saw. Lahir dari garis keturunan yang mulia, Abdul Muthalib adalah pemimpin suku Quraisy, mempunyai sepuluh anak laki-laki. Abdullah adalah anak yang paling disayangi. Abdul Muthalib menikahkan Abdullah dengan Aminah binti Wahb, pemimpin bani Zuhrah. Pada waku itu Aminah adalah wanita yang paling mulia dalam hal keturunan dan kedudukan dikalangan suku Quraisy. Namun tidak lama kemudian Abdullah meninggal dunia dan ketika itu Aminah sedang mengandung Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw dilahirkan pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah (570 M). hari itu menjadi hari hari yang membahagiakan sepanjang matahari terbit. Sang kakek (Abdul Muthalib) menamai cucunya  dengan nama Muhammad, nama yang tergolong aneh waktu itu, hingga membua bangsa arab takjub karena sebelumnya telah mendengar dari Ahli Kitab tentang seorang nabi yang akan dibangkitkan di semenanjung Arab yang bernama Muhammad.

Tanda-Tanda Diluar Kebiasaan Menjelang Munculnya Era Baru dan Kebangkitan Kemanusiaan Baru
Di antara peristiwa-peristiwa tersebut adalah singgasana Kisra yang bergoyang-goyang hingga menimbulkan bunyi, jatuhnya empat belas balkonya, surutnya danau sawa, padamnya api Persia yang disembah oleh rakyat Persia yang belum pernah padam sejak seribu tahun. Sejarawan Inggris T.P. Hughes dalam bukunya Dictionary of Islam juga menuliskan “Sesungguhnya munculnya tanda-tanda tersebut memberi isyarat akan dimulainya suatu gerakan baru. Fenomena-fenomena luar biasa tunduk terhadap munculnya fajar hidayah, kebahagiaan, dan kebenaran. Hal tersebut merupakan pendahuluan, yang menampakan isyarat halus akan hadirnya alam yang yang berperadaban, yakni bagi orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan. Namun, kelahiran mulia ini (yang dilanjutnya dengan diutusnya Muhammad Saw.) lebih agung dan lebih besar serta lebih luas dab lebihdalam, dari pada penunjukan tanda-tanda indrawi. Peristiwa ini memberitakan dimulainya era alam dan kebangkitan kemanusiaan dari segi ideologis, praktis, moral, daya juang, hidayah dan bimbingan, yang mana tanda-tanda indrawiyang terbatas tersebut tidak cukup memberikan ruang dan menunaikan haknya. Allah berfirman yang artinya “Dan hanya milik Allah, tentara-tentara langit dan bumi” (Al Fath [48] ayat 7).

B.     Penyusuannya dan Kisah Pembelahan Dada
Pada awalnya beliau di susui oleh Tsuwaibah, seorang jariyah (budak) pamannya, Abu Lahab selama beberapa hari. Kemudian Abdul Muthalib mencarikan ibu susu dari daerah pedesaan. Mengapa Pedesaan? Mereka mengutamakan daerah pedesaan untuk penyusuan anak-anak mereka demi pertumbuhan awal anak-anak mereka. Hal ini karena karena udara pedesaan masih segar dan bersih, serta sikap orang-orang desa yang masih murni dan sederhana, jauh dari pencemaran kota. Disamping itu bahasa desa juga masih murni dan fasih.
Akhirnya di temukanlah Halimah as-Sa’diyah menjadi wanita yang beruntung untuk membawa beliau ke rumahnya. Ia mendapatkan keberkahan dengan usaha tanganya itu. Halimah senantiasa akrab dengan pertambahan rezeki dan kebaikan dari Allah, hingga berlalu masa dua tahun di Bani Sa’ad.
Ketika Muhammad Saw. Masih tinggal bersama halimah, dua Malaikat datang menemui Beliau. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdurrahim yang terkenal dengan Waliyyullah ad-Dihlawi (w.1176H) mengatakan dalam kitabnya yang istimewa Hujjatullahil Balighah II:205 “Malaikat menampakan diri. Mereka membedah hati(perut)nya, lalu mengisinya dengan keimanan dan hikmah. Hal ini terjadi di antara alam perumpamaan dan kenyataan. Oleh karena itu, pembedahan itu tidak menimbulkan bahaya, dan bekas pembedahan tersebut masih terdapat pada beliau. Seperti itulah yang terjadi dalam setiap peristiwa yang menggabungkan antara alam mitsal (perumpamaan) dan alam syahadah (kenyataan).
C.    Wafatnya Sang Ibu dan Sang Kakek serta Pengasuhan Sang Paman

Abdullah bin ‘Abdul Muntalib wafat pada usia muda sebelum kelahiran Muhammad Saw di Yatsrib bersama rombongan dagang dari Syam.
Ketika Muhammad Saw. berusia 6 tahun, ibunya membawanya pergi ke kota Yatsrib, untuk memperkenalkan kepada kakek-kakeknya disana, juga untuk mengunjungi makam ayah tercinta, ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib. Dalam perjalanan pulang ke Makkah itulah sang ibu menemui ajalnya ditempat yang bernama al-Abwa’. Hal ini merupakan sebagian dari rahasia Tarbiyah Ilahiyah, yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah.
 Setelah itu Muhammad Saw tinggal bersama kakeknya di Makkah hingga usia 8 tahun. Dua tahun sepeninggal sang ibu, beliau harus kembali merasakan pahitnya kehilangan seseorang yang sangat menyayanginya.
Sepeninggal Abdul Muthalib beliau tinggal bersama pamannya Abu Thalib, saudara kandung ayahnya yang sudah di beri wasiat oleh kakeknya untuk merawat Muhammad Saw.

D.    Kisah Rahib Buhaira dan Pendustaan terhadap Kisah Tersebut
Rahib Buhaira
Dalam kisah ini disebutkan bahwasannya Abu Thalib hendak pergi berdagang ke negeri Syam dan diajaknya Muhammad Saw dalam Rombongan dagang. Saat itu Muhammad Saw. Berusia 9 tahun. Dalam perjalanan rombongan berhenti di Bashra, di tempat tersebut terdapat seorang Rahib (Pendeta) bernama Buhaira yang tinggal di Biara miliknya. Sang Rahib menyaksikan Muhammad Saw berikut hal-hal yang “menyalahi kebiasaan” pada beliau. Kemudian sang Rahib memperingatkan kepada Abu Thalib tentang tingginya kedudukan Muhammad Saw. Ia berkata :”bawalah anak saudaramu ini pulang ke negerinya dan jagalah dirinya dari ancaman-ancaman kaum Yahudi. Karena sesungguhnya akan terjadi sesuatu yang besar pada anak saudaramu ini”. Sehingga Abu Thalib membawa pulang Muhammad ke Makkah dalam keadaan selamat.
Pendustaan terhadap Kisah tersebut
Kaum orientalis yang tendensius memanfaatkan kesempatan tersebut, yakni pertemuan Rasulullah Saw. Dengan salah seorang pendeta Nasrani, yang sosok dan kedudukanya di dunia tidak diketahui. Mereka menyatakan bahwa RasulullahSaw. Telah menerima ajaran-ajaran Tauhid yang murni dari seorang Ulama Nasrani.
Lebih mengherankan lagi adalah bahwasanya Carra de Vaux dari Perancis, telah mengarang sebuah buku berjudul Penyusunan Al Quran. Ia berusaha meyakinkan dalam bukunya bahwa Buhaira telah mengajarkan isi Al Quran kepada Muhammad Saw. seluruhnya, dalam pertemuan yang singkat itu.
Tarbiyah Ilahiyah (Pendidikan yang bersifat Ketuhanan)
Rasulullah Saw tumbuh dalam lindungan Allah SWT, Allah telah melindunginya dari tradisi-tradisi jahiliyah, sesuatu yang tidak pantas bagi sifat-sifatnya, walaupun masyarakatnya memandang tidak bermasalah terhadapnya. Maka jadilah beliau seorang manusia yang mulia harga dirinya diantara kaumnya, paling baik akhlaknya, sangat pemalu, sangat jujur, sangat amanah, serta terhindar dari perbuatan keji dan jahat.
E.     Pernikahannya dengan Khadijjah binti Khuwailid
Khadijjah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah Saw. Ia adalah wanita bangsawan suku Quraisy yang memiliki kedudukan terhormat, cerdas, berakhlak mulia, memiliki kekayaan dan seorang janda yang ditinggal mati oleh Abu Halah suaminya. Ketika menikah, Rasulullah berusia 25 tahun dan Khadijjah berusia 40 tahun. Khadijjah adalah istri Rasulullah yang melahirkan seluruh anak-anak beliau, kecuali yang bernama Ibrahim.
F.     Kisah Pembangunan Ka’bah dan Penolakan Terhadap Fitnah
Saat itu Rasulullah telah berusia 35 tahun, pada waktu perbaikan bangunan Ka’bah. Saat itu terjadi perselisihan mengenai Hajar Aswad. Setiap suku ingin memperoleh kehormatan dengan meletakanya ke tempat semula hingga nyaris terjadi perang.
Kemudian terjadilah kesepakatan bahwa orang pertama yang masuk dari pintu Masjidil Haram akan memutuskan perselisihan di antara mereka. Dan orang pertama yang masuk adalah Rasulullah Saw. Rasulullah meminta sehelai kain dan meletakan Hajar Aswad di atas kain kemudian meminta setiap pemimpin suku hendaknya memegang sudut kain kemudian mengangkatnya secara bersama-sama. Demikianlah Rasulullah berhasil mencegah terjadinya perang pada kaum Quraisy dengan penuh kebijaksanaan.
G.    Hilful Fudhul (Sumpah Setia yang Luhur)
Rasulullah Saw menyaksikan terjadinya peristiwa Hilful Fudhu, sebuah sumpah setia yang amat mulia, yang pernah beliau dengar dan beliau saksikan pada bangsa Arab.
Hilful Fudhul adalah sumpah atau perjanjian yang diberikan kepada orang yang terzalimi untuk melawan orang yang menzalimi, sampai ia memberika haknya kepada yang terzalimi. Sumpah ini dilakukan untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan menjaga agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dari seseorang kepada orang lain.
H.      Kegelisahan Misterius dan Tiadanya Antisipasi Terhadap Kenabian atau Risalah
Rasulullah Saw. Mendapati dalam dirinya kegelisahan yang misterius. Beliau tidak mengetahui dari mana asalnya dan sampai kapan akan berakhir. Tidak berfikir sesaatpun oleh beliau bahwa Allah akan menganugerahkan kemuliaan dengan memberinya wahyu dan risalah. QS asy-Syura : 52 dan QS al-Qashash : 86
Diantara tarbiyah dan himak Allah Ta’ala adalah bahwa RasulullahSaw tumbuh dalam keadaan ummi (tidak bias baca tulis). Jadi, beliau jauh dari tuduhan musuh, atau dari prasangka orang-orang yang suka mengada-ada. QS al-Ankabut : 48 dan QS al-A’raf : 157
I.         Kesimpulan
Dunia ini telah berubah setelah di utusnya Rasulullah Saw dengan keutamaan yang luhur sebagaimana berubahnya cuaca. Hati yang kosong, dingin lagi kering kini mulai bersemi kembali dengan panasnya iman dan kuatnya kasih sayang. Manusia mulai sadar, bangun dan membuka matanya setelah tidur panjang berabad-abad lamanya. Manusia mulai mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sesungguhnya perubahan besar dan perputaran indah yang baru ini adalah sebagian dari mu’jizat Muhammad Saw sebagai bukti dari pengutusanya, dan merupakan angina rahmat Ilahiyah yang menyebar di segala tempat dan semua zaman. Maha Benar Allah yang Maha Agung.

”Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi)
Rahmat bagi semesta Alam.” (QS. Al-Anbiya’ : 107)

**  **  **  **  **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar